5 ETIKA BERMEDIA SOSIAL

 


#MCTInfo

πŸ„·πŸ„°πŸ„Έ πŸ…ƒπŸ…πŸ„ΎπŸ„ΎπŸ„ΏπŸ„΄πŸ…πŸ…‚ πŸ–️πŸ–️πŸ–️

Mengapa Harus Etis?

Perkembangan komunikasi digital memiliki karakteristik komunikasi global yang melintasi batas-batas geografis dan batas-batas budaya. Sementara setiap batas geografis dan budaya juga memiliki batasan etika yang berbeda. Setiap negara, bahkan daerah memiliki etika sendiri, begitu pula setiap generasi memiliki etika sendiri. Misalnya saja soal privasi.

Masyarakat kolektif seperti masyarakat Indonesia merasa tidak masalah bercerita tentang penyakit yang diderita di media sosial, atau menunjukkan kehangatan suatu hubungan dimedia sosial, tetapi belum tentu itu dirasakan nyaman oleh masyarakat individualistik. Para orang tua bisa saja merasa biasa bahkan bangga bercerita tentang anak-anaknya, namun belum tentu anak-anaknya nyaman dengan kisah yang diceritakan oleh orang tuanya dimedia sosial. Begitu juga interaksi digital antar gender, dan antar golongan sosial lainnya.

Semua akan memunculkan persoalan-persoalan etika. Artinya dalam ruang digital kita akan berinteraksi, dan berkomunikasi dengan berbagai perbedaan kultural tersebut, sehingga sangat mungkin pertemuan secara global tersebut akan menciptakan standar baru tentang etika.

Semua orang, tidak pandang usia, terhubung dan berkomunikasi menggunakan media sosial (medsos) dalam berbagai platform. Pengguna dengan sangat leluasa mendapatkan dan berbagi informasi ke seluruh dunia dalam waktu yang sangat singkat. Sayangnya, tidak sedikit terjadi penyalahgunaan medsos atau perilaku pengguna medsos yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah etika ataupun kesopanan.

Selama ini masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang terkenal menjunjung tinggi kesopanan dan tata karma. Sehingga, dalam interaksi sosial secara langsung tatap muka, masyarakat cenderung lebih mawas diri dan berhati-hati. Bisa jadi untuk menghindari cibiran, celaan, atau sanksi sosial yang berlaku di masyarakat bila melanggar nilai-nilai tersebut.

Hal berbeda terjadi di dunia medsos, dimana setiap individu bisa membuat akun palsu atau tanpa nama yang kemudian hari bisa dihapus atau ditinggalkan bila sudah tidak digunakan lagi. Seseorang yang ingin melakukan kejahatan melalui medsos dengan menghina, menghujat, melecehkan atau bahkan menipu akan dengan sangat mudah melancarkan aksinya tanpa ada sanksi sosial yang akan dihadapi di dunia nyata.

Ketiadaan editor mungkin salah satu penyebab maraknya konten-konten sensitif di medsos. Berbeda sekali dengan platform tradisional seperti surat kabar, radio, dan televisi. Di medsos, setiap orang dapat menjadi editor untuk dirinya sendiri dan segera melempar konten pribadi kepada siapa pun.

Siberkreasi & Deloitte (2020) merumuskan etika digital (digital ethics) adalah kemampuan individu dalam menyadari, mencontohkan, menyesuaikan diri, merasionalkan,mempertimbangkan dan mengembangkan tata kelola etika digital (netiquet) dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa menggunakan media digital mestinya diarahkan pada suatu niat, sikap, dan perilaku yang etis demi kebaikan bersama.

 
Etika dalam bermedia sosial

1. GUNAKAN BAHASA YANG BAIK DAN SOPAN

Menggunakan bahasa yang baik dan sopan sehingga tidak menimbulkan resiko kesalahpahaman serta multitafsir.
Hindari kata-kata kasar, umpatan maupun makian

2. HINDARI PENYEBARAN SARA, UJARAN KEBENCIAN, HOAX, PORNOGRAFI DAN AKSI KEKERASAN

Hindari menyebarkan informasi mengandung SARA, Ujaran Kebencian, HOAX serta Pornografi pada jejaring sosial. Biasakan menyebarkan hal-hal yang berguna dan tidak menimbulkan konflik antar sesama.
Hindari juga mengupload foto korban kekerasan, foto kecelakaan lalu lintas maupun foto kekerasan. Jangan menambah kesedihan para keluarga korban dengan menyebarluaskan foto kekerasan karena mungkin saja keluarganya berada di dalam foto yang Anda sebarkan.

  1. KROSCEK KEBENARAN INFORMASI DAN BERITA
Anda diharapkan waspada ketika kita menerima suatu informasi dari media sosial yang berisi berita yang menjelekkan salah satu pihak di media sosial dan bertujuan menjatuhkan nama baik seseorang dengan menyebarkan berita yang hasil rekayasa. Maka hal tersebut menuntut anda agar lebih cerdas lagi saat menangkap sebuah informasi, apabila Anda ingin menyebarkan informasi tersebut, alangkah bijaknya jika Anda melakukan kroscek terlebih dahulu atas kebenaran informasi tersebut.
  1. HARGAI HASIL KARYA ORANG LAIN
Saat menyebarkan informasi baik dalam bentuk foto, tulisan maupun video milik orang lain maka biasakan untuk mencantumkan sumber informasi sebagai salah satu bentuk penghargaan atas hasil karya seseorang. 
  1. JANGAN MENUMBAR INFORMASI PRIBADI
Janganlah terlalu mengumbar informasi pribadi Anda terlebih lagi informasi mengenai nomor telepon atau alamat rumah Anda. Hal tersebut bisa saja membuat kontak lain dalam daftar Anda juga akan menjadi informasi bagi mereka yang ingin melakukan tindak kejahatan kepada diri Anda.

Media sosial memang seperti pisau bermata dua. Di satu sisi dapat dipergunakan sebagai sarana menyambung silaturahmi. Merajut kembali persahabatan yang lama terputus. Namun, dapat pula menimbulkan permusuhan tajam. ‘Perang’ terbuka dengan sumpah serapah yang meluncur tanpa kendali sering kita saksikan berseliweran di dunia maya. Tampaknya etika bermedia sosial semakin lama semakin penting untuk mendapat perhatian serius para pegiatnya. Semoga bermanfaat.


Ketika mengunjungi platform medsos seperti Instagram, Facebook atau Twitter maupun layanan video berbagi seperti  YouTube, kita dengan mudah menjumpai konten-konten sensitif seperti konten dengan tema politik, suku, agama dan ras, bila kita merujuk pada kolom komentar tentu akan kita jumpai banyak sekali komentar-komentar yang tidak mengindahkan lagi norma-norma kesopanan yang ada di masyarakat Indonesia.

Sumber :
- diskominfo.penajamkab.go.id
- Modul Etis Bermedia Digital (Kominfo, Japelidi dan Siberkreasi)

#ManguniCyberTroops #MakinCakapDigital #MCT #MCS #par #EtikaWargaDigital

0 Komentar