CURHAT DI MEDIA SOSIAL ?



#MCTInfo

πŸ„·πŸ„°πŸ„Έ πŸ…ƒπŸ…πŸ„ΎπŸ„ΎπŸ„ΏπŸ„΄πŸ…πŸ…‚ πŸ–️πŸ–️πŸ–️

Media sosial kini seakan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Sejak pagi hari hingga malam tiba, kita bergantung pada media sosial tempat kita berinteraksi dengan teman, sahabat, keluarga maupun orang-orang asing. Kehadiran media sosial sebagai pengganti interaksi langsung, seakan memberikan kebiasaan baru bagi kita untuk selalu membagikan momen dan aktivitas yang sedang kita lakukan. Banyak yang akhirnya tidak sengaja curhat atau membagikan kehidupan pribadi tanpa tahu batasan ranah privat dan ranah publik. Fungsi media sosial kini telah mengalami pergeseran dari sekadar pengganti interaksi langsung menjadi panggung mengekspresikan diri.

Media sosial menyediakan fitur bagi kita untuk membagikan pemikiran, pendapat, dan pengalaman yang terkadang atau tidak sengaja masuk ke dalam ranah privat kita sendiri dan terkesan curhat. Penelitian menemukan bahwa kita senang berbicara tentang diri kita sendiri (lebih dari 50% tweet berfokus pada “saya”). Mengapa demikian? Secara biologis, kita memiliki kecenderungan untuk berbicara tentang diri kita sendiri (pemikiran, pendapat dan pengalaman) karena hal itu sangat menyenangkan. Terlebih, ketika hal itu dibagikan maka, bagian otak yang terkait dengan “mencari penghargaan” mulai aktif. Bagian otak tersebut adalah bagian yang sama ketika kita mendapatkan makanan atau uang. Tidak heran apabila bercerita di media sosial bisa menjadi sesuatu yang candu bagi kita. Namun, di sisi lain fenomena berbagi tentang privasi diri hingga curhat berlebih bisa menyebabkan terjadinya cyber-bullying, pencurian data, membahayakan anak di bawah umur serta penipuan

Lalu, apa sebenarnya alasan seseorang sering curhat di sosial media?

1. Memberikan Perasaan Menyenangkan
Sejalan dengan hasil penelitian tentang bagaimana bagian otak “mencari penghargaan” aktif ketika curhat di media sosial, penelitian lain juga menyebutkan bahwa seseorang yang membagikan cerita tentang dirinya akan memengaruhi pelepasan senyawa kimia di otak yang memberikan perasaan senang. Hal ini terkait dengan adanya hubungan positif antara interaksi suportif yang didapatkan ketika curhat di media sosial (apabila dirinya mendapatkan dukungan sosial). Hal ini berimplikasi pada perasaan bahagia, pandangan positif terhadap dukungan sosial, rasa kebersamaan serta kepuasan hidup seseorang.

2. Kebutuhan untuk Didengarkan
Sebagian orang mungkin merasa tidak mudah untuk menceritakan sesuatu dengan orang lain secara langsung. Namun, fakta sejarah berkata bahwa kita adalah makhluk yang selalu mencari cara untuk memastikan suara kita didengar -dari penemuan telegraf hingga satelit telekomunikasi yang berkeliaran di orbit- adalah upaya manusia untuk saling berbicara, mendengar dan didengarkan. Untuk itu, ketika orang-orang tidak bisa bercerita secara langsung, maka media sosial adalah solusi bagi mereka yang ingin didengarkan tanpa perlu berkomunikasi secara langsung. Hal ini kemudian merujuk pada data riset yang dilakukan oleh NYTimes bahwa sebanyak 81% alasan orang-orang membagikan cerita pribadinya di media sosial karena mereka ingin berinteraksi sosial dan menyebarkan pendapatnya sehingga didengarkan oleh publik kemudian mereka mendapatkan respon berupa komen.

Kebutuhan untuk didengarkan ternyata menjadi salah satu kebutuhan dasar manusia, bahkan Dale Carnegie, seorang penulis Amerika, dalam penelitiannya menunjukan bahwa kebutuhan manusia untuk didengarkan setara dengan kebutuhan untuk makan, sehat, perlindungan, dan seks.

3. Kebutuhan untuk Dikenal
Dikagumi, dipuji dan pengakuan atas status sosial dari banyak orang dapat memenuhi kebutuhan manusia akan rasa bangga. Seseorang akan merasa bangga dengan dirinya sendiri ketika ia merasa bahwa dirinya telah berbuat sesuatu yang “signifikan” pada satu (atau lebih) platform media sosial yang ia gunakan. Filsuf dan psikolog telah lama sepakat bahwa perasaan bangga dan kata-kata pujian terbukti mampu membangun kebahagiaan bagi seseorang. Pengakuan sosial dari orang-orang di media sosial pada akhirnya mampu memberikan perasaan bahagia bagi seseorang yang menggunakannya. Pengakuan sosial itu bisa didapat ketika seseorang bercerita tentang kehidupan pribadinya (curhat) yang kemudian mendapatkan respon positif dari banyak orang di media sosial.

***
Media sosial adalah sarana kita dalam menjalin komunikasi dan berekspresi di zaman yang minim waktu untuk bertemu secara langsung. Penggunaannya kini makin beragam bentuk dan cara hingga bergeser ke upaya curhat yang bersifat pribadi. Maka dari itu, ada baiknya bagi kita untuk menggunakan media sosial secara bijak dan sadar. Bijak dan sadar dalam proses berbagi tentang apa yang seharusnya dibagikan dan apa yang tidak. Mana yang ranah publik dan aman untuk dibagikan serta mana yang urusan pribadi dan sebaiknya disimpan rapat. Media sosial bukanlah diri kita sebenarnya, karena diri kita adalah manusia sejati yang hidup di dunia nyata dengan kekurangan dan kelebihannya.
Berbagai Kemungkinan Dampak Buruk Curhat di Media Sosial

Curhat dengan sahabat bisa berdampak baik untukmu, tapi curhat di media sosial yang berlebihan sering kali tidak menyelesaikan masalah, melainkan justru bisa menyebabkan kecemasan dan kecanduan gadget. Tak hanya itu, dampak negatif dari penggunaan media sosial yang berlebihan juga termasuk:

1. Emosi yang semakin terpendam
Memang, beberapa orang yang curhat atau mengungkapkan perasaan negatif di media sosial bisa merasa lebih lega. Namun, perasaan lega dan tenang ini kebanyakan hanya berlangsung dalam jangka pendek.

Orang-orang yang terbiasa mengungkapkan kemarahannya di media sosial cenderung tidak menyelesaikan masalahnya dengan tuntas. Hal ini menyebabkan perasaan marahnya akan tersisa dan menumpuk, sehingga ia justru lebih sering mengekspresikan kemarahannya di dunia nyata dengan cara negatif.

2. Kehilangan pertemanan
Ada orang yang sering curhat di media sosial tentang hal-hal di sekitarnya, termasuk tentang pekerjaan atau lingkungan terdekatnya. Mereka kadang tidak sadar bahwa unggahan ini juga dapat dibaca orang di kantor dan bahkan mungkin menyinggung seseorang.
Studi menemukan bahwa banyak orang yang kehilangan pertemanan karena unggahan mereka di media sosial. Bahkan, tak sedikit juga yang dilaporkan ke atasan di kantor dan dinilai tidak profesional.

3. Emosi yang diekspresikan bisa menular dan berdampak negatif
Kenyataannya, unggahan bernada marah lebih sering dibagikan ulang daripada unggahan tentang kegembiraan. Inilah yang membuat emosi kemarahan lebih cepat viral. Peneliti menemukan bahwa emosi negatif seseorang bisa muncul dari status bernada negatif yang diunggah orang lain di media sosial.

4. Nggak Menyelesaikan Masalah
Normalnya, orang yang bersedih atau marah, akan curhat dengan sahabat terdekat atau orangtuanya untuk mendapatkan solusi. Tapi jika kamu memiliki pemikiran yang kurang panjang, pasti kamu buru-buru untuk update status tentang masalahmu dan belum tentu juga orang lain akan peduli dan memberikan solusi sama kamu.

5. Membuka Kelemahan dan Aib Sendiri
Setiap kali ada masalah, Anda langsung curhat di media sosial. Kebiasaan Anda yang gemar pamer kegalauan ini sama saja membuka aib atau kelemahan Anda sendiri. Ingat, bukan hanya Anda saja yang memiliki masalah, semua orang juga punya masalah di hidupnya. Hanya saja, curhat dengan sahabat, suami, atau keluarga, akan menjadi pilihan yang lebih bijak daripada mengumbarnya di media sosial. Dan lagi berhati-hatilah, orang lain yang berniat buruk pada Anda bisa menggunakan hal ini untuk menjatuhkan Anda.

6. Membuat Ilfeel Orang Lain
Mengisi akun media sosial Anda dengan curhat setiap saat atau mengunggah foto-foto selfie setiap beberapa menit, tentunya tak akan jadi masalah bagi Anda sendiri. Namun bagaimana dengan orang lain yang berteman dengan Anda di media sosial tersebut? Bisa jadi mereka lama-kelamaan jadi ilfeel karena timeline mereka dipenuhi dengan postingan Anda semua. Yang ada, eksistensi Anda di media sosial malah mengganggu teman-teman Anda. Hingga dampak jangka panjangnya, karena terlanjur ilfeel, dalam kehidupan nyata, dapat merenggangkan jalinan pertemanan Anda dengannya.

7. Privasi Tak Terjaga
Daripada menceritakannya ke orang lain, menuliskan curhatanmu ke media sosial terkadang dirasa lebih aman. Jika kamu tidak ingin tulisanmu dibaca orang lain, tinggal aktifkan modus private saja. Mungkin pemikiran itu juga ada di pada dirimu?
Jika iya, cobalah kamu pikir ulang apakah langkah yang kamu ambil itu aman. Ada banyak kasus yang mengungkap kebocoroan rahasia media sosial meski telah mengatur aplikasinya menjadi privasi. Bahkan dibeberapa kasus foto yang telah 3 tahun dihapus dapat muncul kembali

8. Masalah Semakin Besar
Tidak sedikit masalah kecil yang menjadi besar ketika diumbar pada media sosial. Padahal masalah tersebut bisa saja langsung diselesaikan secara baik-baik dengan bertatap muka. Contohnya saja, ketika kamu memutuskan untuk membahas kemarahan melalui media sosial, daripada menghadapi anggota keluarga lainnya.
Cara Menghindari Dampak Negatif Curhat di Media Sosial

Setelah memahami dampak-dampak di atas, sekarang kamu perlu memahami cara yang lebih sehat untuk mengekspresikan diri di media sosial:

1. Batasi unggahan yang bersifat personal
Akan lebih baik jika kamu membatasi unggahan tentang hal personal, seperti hubungan pribadimu. Namun, bukan berarti kamu tidak boleh menunjukkan rasa sayang terhadap pasanganmu, ya. Kamu tetap bisa menunjukkan hal itu, tapi hindari unggahan yang terlalu berlebihan, terlalu pribadi, atau bahkan sengaja untuk pamer.

2. Tunda unggahan
Setelah mengetik panjang lebar tentang hal yang kamu keluhkan, tunda dulu sebelum kamu menekan pilihan “kirim.” Coba untuk mengalihkan perhatian dengan melakukan hal lain, seperti bermain game, nonton series di youtube atau tv, dan membaca buku.

Menarik napas yang dalam dan melakukan relaksasi juga dipercaya ampuh untuk meredam rasa negatif dan membuatmu tenang. Kamu juga bisa melakukan refleksi diri dan memikirkan konsekuensi dari menyebarkan kata-kata yang sudah kamu ketik

3. Hindari mengungkap hal detail
Hindari mengunggah cerita atau foto tentang hal yang tidak begitu penting atau terlalu detail, seperti menu sarapanmu tiap pagi, terutama jika sebagian besar temanmu di media sosial juga adalah orang yang sering kamu temui.

4. Ekspresikan diri dengan cara positif
Sama seperti berita kemarahan, berita kebahagiaan juga bisa menular melalui media sosial. Daripada menyebarkan sesuatu yang negatif, lebih baik kamu berfokus untuk mengunggah sesuatu yang bisa membuat orang lain ikut bahagia dan ikut menyebarkan kebahagiaan.

Gunakan media sosial untuk menunjukkan perhatian pada orang lain, bukan untuk mencari perhatian atau pengakuan. Misalnya, kamu bisa mengunggah momen bahagia bersama orang-orang di sekelilingmu atau berbagi info penting yang bermanfaat.

Setelah kamu mengetahui efek negatif curhat di media sosial, sebaiknya mulai sekarang lebih berhati-hati memilih mana yang perlu diunggah dan mana yang disimpan saja. Ingatlah bahwa apa yang diunggah di media sosial akan membuat orang memiliki persepsi tertentu tentang diri kita.

Jika kamu tidak menemukan cara yang tepat untuk mencurahkan isi hati atau keluhan hidup yang membebani, akan jauh lebih baik kalau kamu konsul ke psikolog daripada curhat ke sembarang orang atau di sembarang tempat, apalagi media sosial.

Sumber :
https://www.alodokter.com/
https://pijarpsikologi.org/
https://www.griyakhitan.com/

#ManguniCyberTroops #MakinCakapDigital #MCT #MCS #PAR #EtikaWargaDigital

0 Komentar