Pernah membuka media sosial untuk melihat kabar terbaru, tetapi akhirnya menghabiskan waktu lama membaca berita kriminal, konflik, bencana, pertengkaran, atau berbagai informasi yang membuat pikiran tidak tenang?
Kita mungkin berniat berhenti setelah satu unggahan, tetapi rasa penasaran mendorong kita membuka unggahan berikutnya. Tanpa disadari, waktu terus berlalu dan perhatian kita semakin tersita.
Kebiasaan ini dikenal sebagai doomscrolling.
Doomscrolling bukan diagnosis medis. Istilah ini menggambarkan pola terus-menerus mengonsumsi informasi negatif atau mengganggu secara daring, sering kali disertai kesulitan untuk berhenti. Kebiasaan ini perlu diperhatikan terutama ketika mulai mengganggu keseharian.
1. Mengapa kita sulit berhenti doomscrolling?
Ada beberapa faktor yang dapat membuat seseorang terus mencari informasi negatif.
- Rasa penasaran dan ketidakpastian
Ketika terjadi peristiwa besar atau mengkhawatirkan, kita ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana perkembangannya, dan apakah ada risiko yang perlu diwaspadai. Keinginan memperoleh kepastian ini dapat mendorong kita terus memeriksa kabar terbaru.
- Perhatian terhadap ancaman
Informasi mengenai bahaya, konflik, atau kejadian mengejutkan dapat menarik perhatian karena dianggap penting untuk keselamatan dan pengambilan keputusan. Namun, terus memantau ancaman tidak selalu membuat kita merasa lebih siap atau tenang.
- Kebiasaan dan desain platform
Notifikasi, rekomendasi konten, serta fitur gulir tanpa akhir dapat memudahkan kita berpindah dari satu unggahan ke unggahan berikutnya. Jika kebiasaan ini dilakukan berulang kali, membuka media sosial bisa menjadi respons otomatis ketika bosan, cemas, atau ingin mengalihkan perhatian.
2. Apa dampaknya terhadap keseharian?
Dampak doomscrolling tidak sama pada setiap orang. Namun, konsumsi informasi negatif yang berlebihan dapat berkaitan dengan beberapa kesulitan.
- Kesehatan emosional
Paparan berulang terhadap berita yang mengganggu dapat membuat sebagian orang merasa lebih cemas, tegang, sedih, atau kewalahan. Pikiran juga mungkin terus memikirkan informasi yang baru saja dibaca meskipun aplikasi sudah ditutup.
- Kualitas tidur
Jika kebiasaan menggulir membuat waktu tidur tertunda, tubuh kehilangan kesempatan untuk beristirahat secara cukup. Penggunaan ponsel hingga larut malam juga dapat membuat rutinitas tidur menjadi tidak teratur.
- Konsentrasi dan produktivitas
Keinginan memeriksa pembaruan secara terus-menerus dapat memecah perhatian. Akibatnya, pekerjaan, pembelajaran, atau kegiatan penting lainnya mungkin tertunda.
- Kesehatan fisik
Menghabiskan waktu terlalu lama di depan layar tanpa jeda dapat menyebabkan mata terasa lelah dan tubuh kurang bergerak. Posisi duduk atau berbaring yang tidak nyaman juga dapat menimbulkan ketegangan pada leher dan bahu.
- Hubungan sosial
Ketika perhatian terus tertuju pada layar, kesempatan untuk berbincang dan menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman dapat berkurang.
Penelitian mengenai doomscrolling menemukan adanya hubungan antara kebiasaan tersebut dan beberapa indikator kesejahteraan psikologis yang lebih rendah. Namun, hubungan ini tidak otomatis membuktikan bahwa doomscrolling menjadi penyebab langsung. Kondisi individu dan faktor lain juga dapat berperan.
3. Kenali tanda-tanda ketika kebiasaan mulai mengganggu
Cobalah mengevaluasi kebiasaan bermedia sosial jika kamu sering mengalami hal-hal berikut:
- Sulit berhenti menggulir meskipun sudah lelah atau tidak nyaman.
- Berniat membuka aplikasi sebentar, tetapi akhirnya menghabiskan waktu jauh lebih lama.
- Terus memikirkan berita negatif setelah meninggalkan media sosial.
- Menunda waktu tidur karena ingin mengetahui pembaruan terbaru.
- Merasa semakin cemas atau kewalahan setelah membaca banyak informasi.
- Mengabaikan pekerjaan, belajar, hobi, atau waktu bersama orang terdekat.
Satu tanda saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang memiliki masalah tertentu. Perhatikan frekuensi, intensitas, dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
4. Enam cara memutus siklus doomscrolling
1. Tetapkan batas waktu
Tentukan kapan dan berapa lama kamu akan mengakses media sosial. Gunakan pengingat atau fitur batas waktu pada perangkat jika tersedia. Mulailah dengan batas yang realistis dan sesuaikan dengan kebutuhanmu.
2. Pilih sumber informasi yang tepercaya
Utamakan sumber yang jelas, akurat, dan memberikan konteks. Hindari menjadikan judul sensasional atau unggahan viral sebagai satu-satunya dasar untuk memahami suatu peristiwa.
Kamu tetap dapat mengikuti berita penting tanpa harus membaca setiap unggahan yang muncul.
3. Matikan notifikasi yang tidak diperlukan
Kurangi pemberitahuan yang mendorongmu membuka aplikasi berulang kali. Kamu bisa menentukan waktu khusus untuk memeriksa kabar, alih-alih terus-menerus mengecek ponsel setiap kali ada notifikasi.
4. Hindari menggulir HP menjelang tidur
Buat rutinitas yang membantu tubuh bersiap beristirahat. Misalnya, letakkan ponsel jauh dari tempat tidur, aktifkan mode senyap, atau ganti kebiasaan membaca berita dengan kegiatan yang lebih menenangkan.
5. Alihkan perhatian ke aktivitas di luar layar
Cobalah berjalan kaki, berolahraga, membaca buku, memasak, melakukan hobi, atau berbincang dengan keluarga. Aktivitas sederhana dapat membantu mengembalikan perhatian pada kehidupan di sekitar kita.
6. Perhatikan kondisi emosional
Tanyakan kepada diri sendiri: apakah saya masih memperoleh informasi yang bermanfaat, atau hanya terus mencari berita yang membuat saya semakin gelisah?
Jika mulai merasa kewalahan, tutup aplikasi dan beristirahatlah. Apabila kebiasaan ini terus mengganggu tidur, pekerjaan, pembelajaran, atau keseharian, pertimbangkan untuk berbicara dengan orang tepercaya atau mencari bantuan tenaga profesional.
5. Tetap terinformasi tanpa kehilangan keseimbangan
Mengikuti berita bukanlah sesuatu yang buruk. Informasi yang akurat membantu kita memahami keadaan, meningkatkan kewaspadaan, dan mengambil keputusan yang tepat.
Yang perlu dihindari adalah kebiasaan mengonsumsi informasi tanpa batas hingga mengganggu keseimbangan hidup.
Kita tidak harus mengetahui setiap perkembangan setiap saat. Pilih informasi yang relevan, gunakan sumber yang dapat dipercaya, dan berikan waktu bagi pikiran untuk beristirahat.
Penutup: kendalikan layar, jaga kehidupan
Doomscrolling dapat terjadi secara perlahan tanpa kita sadari. Karena itu, langkah pertama bukanlah menyalahkan diri sendiri, melainkan mengenali kebiasaan dan dampaknya.
Mulailah dari perubahan sederhana: batasi waktu, kurangi notifikasi, pilih sumber tepercaya, dan luangkan waktu untuk kegiatan di dunia nyata.
Kita bisa tetap terhubung dengan dunia tanpa harus mengorbankan kesehatan mental, fisik, dan kehidupan kita.
Mari membangun ruang digital yang lebih sehat bersama Manguni Cyber Troops (MCT).
Website: http://www.mangunicybertroops.com
Media sosial: @mangunicybertroops
WhatsApp: 081355337739



0 Komentar
Komentar baru yang perlu dimoderasi