HATI-HATI ! KECANDUAN MEDIA SOSIAL BISA SEBABKAN GANGGUAN JIWA


#MCTinfo

πŸ„·πŸ„°πŸ„Έ πŸ…ƒπŸ…πŸ„ΎπŸ„ΎπŸ„ΏπŸ„΄πŸ…πŸ…‚ πŸ–️πŸ–️πŸ–️

Media sosial saat ini sudah benar-benar menjadi bagian dari gaya hidup banyak orang. Tidak hanya untuk tujuan hiburan, berbagi momen dan informasi. Media sosial dalam gaya hidup masyarakat saat ini bahkan sudah naik level menjadi ladang bisnis, tempat mencari pekerjaan sampai tempat mencari penghasilan.

Besarnya efek media sosial memang banyak melahirkan dampak positif yang tentunya diikuti dengan banyaknya dampak negatif yang juga ikut mempengaruhi banyak orang. Salah satu dampak negatif dari media sosial yang paling meresahkan adalah efek kecanduan yang bisa mendorong orang memiliki penyakit mental tidak hanya satu tapi beberapa sekaligus dalam waktu yang sama.

World Health Organization melaporkan pada tahun 2017 terdapat 10–20% anak-anak dan remaja yang menderita gangguan kesehatan jiwa. Gangguan yang paling sering ditemukan pada kelompok tersebut adalah gangguan ansietas dan depresi, dengan prevalensi yang meningkat hingga 70% dalam 25 tahun terakhir.

Untuk kamu yang sudah memasuki usia dewasa, jangan santai dulu. Media sosial tetap bisa menggangu kesehatan mental kamu bahkan menyebabkan gangguan jiwa jika penggunaannya berlebihan.

Berikut gangguan mental yang disebabkan oleh kecanduan media sosial yang harus kamu ketahui:

1. FoMO Syndrome

FoMO adalah sebuah perasaan atau persepsi bahwa orang lain lebih bersenang-senang, menjalani kehidupan yang lebih baik, atau memiliki pengalaman yang lebih baik dibanding kamu.

Hal ini melibatkan rasa iri yang mendalam. Akhirnya, dapat memengaruhi kepercayaan diri. Gangguan FoMO sering diperburuk oleh media sosial. FoMo juga bisa menimbulkan perasaan kecemaan yang berlebihan jika tidak bisa mengikuti atau mengetahui tren di media sosial.

Perasaan ini dapat berlaku bagi siapa saja. Lalu, bisa membuat penderitanya selalu merasa tidak berdaya dan melewatkan sesuatu yang besar.

Penderita FoMo biasanya mengalami kecanduan akut terhadap internet dan media sosial, bahkan merasa sangat cemas jika tidak dapat terhubung dengan akun media sosialnya walaupun hanya untuk sesaat.

2. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

ADHD atau attention deficit hyperactivity disorder adalah gangguan mental yang menyebabkan seseorang sulit memusatkan perhatian, serta memiliki perilaku impulsif dan hiperaktif.

Penderita ADHD biasanya telah memiliki gejala ADHD dari usia balita. Penyebab ADHD pun memiliki beberapa faktor yaitu genetik dan lingkungan. ADHD juga diduga berkaitan dengan gangguan pada pola aliran listrik otak atau gelombang otak.

Dampak buruk kecanduan media sosial pada penderita ADHD adalah mendapatkan banyak stimulasi atau rangsangan di media sosial yang akan mempengaruhi kondisi penderita ADHD tersebut. Terlebih bagi orang yang sudah kecanduan terhadap intenet dan medsos itu sendiri.

3. Depresi

Depresi merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan perasaan sedih yang dalam dan berlebihan. Depresi merupakan gangguan suasana hati (mood) yang ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam dan rasa tidak peduli.

Orang yang mengalami depresi tertekan secara psikologis dengan berlebihan sehingga kehilangan minat dan semangat untuk beraktivitas, mengalami gangguan pola tidur, bahkan hingga mengalami dorongan untuk bunuh diri. Depresi bisa menyerang siapa saja, mulai dari remaja sampai dewasa bahkan lansia.

Karena media sosial bisa menimbulkan perasaan seaakan menuntut penggunanya untuk menjadi apa yang sedang tren di dalamnya, tidak jarang hal ini bisa membuat mereka secara tidak langsung menjadi sangat tertekan jika tidak bisa mengikutinya.

4. Voyeurism

Voyeur identik dengan orang yang suka mengintip. Dalam ranah internet dan media sosial, voyeur lebih dikenal dengan istilah "stalker".

Voyeurism sendiri artinya adalah gangguan jiwa dimana penderitanya memiliki penyimpangan perilaku seksual di mana dia telah merasa puas saat mengintip orang lain yang sedang telanjang, mandi, atau sedang berhubungan seksual.

Sebagian orang yang diintip tidak merasa jika ada orang lain yang sedang melihatnya. Hal ini terjadi sebab sebagian voyeur melakukan aksinya ketika korban sedang berada di tempat privasinya seperti kamar atau di rumah.

Media sosial bisa memberikan ruang untuk meningkatkan salah satu gejala voyeurism yaitu stalking, dimana gejala ini bisa meningkat menjadi sikap obsesi berlebihan yang bisa mencelakakan seseorang.

5. Schizoaffective atau Schizotypal Disorder

Schizoaffective disorder atau gangguan skizoafektif adalah kelainan mental yang gejalanya merupakan gabungan dari skizofrenia dan gangguan mood (misalnya depresi atau bipolar disorder).

Gangguan ini adalah penyakit mental yang menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi, memiliki pikiran yang membingungkan, depresi, dan gangguan ingatan.

Penggunaan media sosial tanpa kontrol akan semakin memperparah gangguan ini, bahkan dapat memicu kecenderungan bunuh diri dan juga dorongan untuk membunuh orang lain.

6. Hipokondria

Hipokondria atau hipokondriasis adalah salah satu jenis gangguan kecemasan di mana penderitanya percaya bahwa dirinya memiliki penyakit serius atau mengancam nyawa. Padahal saat diperiksa secara medis, gejalanya sangat ringan atau bahkan tidak ada.

Hipokondria bisa terjadi sesekali atau terus menerus, tergantung pada tingkat keparahannya. Kondisi ini bisa terjadi pada usia berapa pun, tetapi tanda awal gejala biasanya terlihat pada usia 25–35 tahun.

Dengan adanya kemudahan dalam mengakses segala hal di internet maupun sosial media, penderita akan semakin buruk kondisinya, karena pemberitaan tersebut memperkuat kecenderungannya untuk merasa cemas akan berbagai penyakit di tubuhnya.

7. Low Forum Frustration Tolerance

Low Forum Frustration Tolerance merupakan gangguan jiwa yang menyebabkan penggunanya merasa haus akan sebuah self esteem atau pengakuan diri dari pengguna lain di internet.

Penderita gangguan jiwa ini merasa bahwa dirinya haus akan pengakuan diri dari pengguna media sosial lainnya, sehingga ia akan bersedia untuk melakukan apa saja di media sosial demi pengakuan tersebut. Penderita juga akan mengecek postingan tersebut bahkan tiap menit untuk melihat berapa orang yang telah merespon postingannya.

Apabila ia merasa pengakuan tersebut tidak didapatkannya, maka penderitanya akan merasa frustrasi dan bisa saja mengalami depresi.

8. Obsessive Compulsive Disorder

Obsessive compulsive disorder (OCD) adalah gangguan mental yang menyebabkan penderitanya merasa harus melakukan suatu tindakan secara berulang-ulang. Bila tidak dilakukan, penderita OCD akan diliputi kecemasan atau ketakutan.

Gangguan obsesif kompulsif dapat dialami oleh siapa saja. Meski lebih sering terjadi di awal usia dewasa, OCD juga bisa terjadi pada anak-anak atau remaja.

Penderita OCD terkadang sudah menyadari bahwa pikiran dan tindakannya tersebut berlebihan, tetapi tetap merasa harus melakukannya dan tidak dapat menghindarinya.

Pada hubungannya dengan media sosial, pengguna akan selalu merasa tidak sempurna dengan apa yang ditulis atau di uploadnya. Seperti terlalu banyak menggunakan filter dalam mengedit foto pada media sosial. Atau terlalu terobsesi dengan tampilang feed yang sempurna.

Hal ini bisa menurunkan kepercayaan diri secara drastis dan tingkat insekuritas yang mengkhawatirkan

9. Internet Asperger Syndrome

Bisa dikatakan ini adalah sindrom yang menyebabkan seseorang memiliki kepribadian lain antara dia di akun media sosialnya dengan kehidupan sehari-harinya.

Penderita sindrom ini biasanya menciptakan persona dari dirinya sendiri yang lain yang hanya ditunjukkan di media sosial.

Mereka melakukan hal tersebut karena didorong oleh rasa iri dan juga keinginan untuk diakui atau perhatian sebagai seseorang yang sempurna, berbeda atau cocok dan sesuai dengan tren atau standar media sosial.

Orang tersebut menderita Internet Asperger Syndrome, yang menyebabkan seseorang menjadi berubah sikap di dunia maya, sementara jauh berbeda ketika ia berada di dunia nyata.

10. Compulsive Shopping

Maraknya pertumbuhan bisnis online membuat sebagian orang bisa sulit melepaskan diri dari kemudahan berbelanja di tempat tanpa perlu harus keluar rumah.

Kebiasaan belanja ini berawal dari perasaan puas dapat menemukan apa pun yang dibutuhkan hanya melalui layar gadget di tangan, sehingga berkembang menjadi kebiasaan impulsif untuk membeli barang lain yang tidak dibutuhkan.

Media sosial sebagai salah satu media yang banyak digunakan untuk berjualan/berbisnis online tentu bisa mendorong seseorang mengalami gejala ini. Jika masuk ketahap yang mencemaskan, penderita penyakit ini akan semakin merusak kondisi mentalnya saja tapi juga finansialnya.

11. Munchausen Syndrome

Sindrom Munchausen adalah gangguan mental yang dicirikan dengan penderitanya yang sering pura-pura sakit. Kondisi ini disebut juga dengan factitious disorder dan umumnya berkaitan dengan trauma masa kecil.

Sindrom yang paling sering dialami oleh orang berusia dewasa muda ini, tergolong sebagai masalah mental karena berkaitan dengan gangguan emosional yang berat.

Penderitanya bisa mengarang cerita apa pun hanya untuk mendapatkan perhatian di media sosial dan ia tidak peduli jika apa yang di posting di media sosial tersebut bukanlah merupakan suatu kebenaran.

Itu karena, penderita Munchausen syndrome bertindak dengan tujuan menarik simpati dan perhatian orang lain dan orang dengan sindrom Munchausen bisa tampak sangat meyakinkan.

12. Borderline Personality Disorder (BPD)

Borderline personality disorder (BPD) atau gangguan kepribadian ambang adalah gangguan mental serius yang memengaruhi perasaan dan cara berpikir penderitanya. Kondisi ini ditandai dengan suasana hati dan citra diri yang senantiasa berubah-ubah dan sulit dikontrol, serta perilaku yang impulsif.

Seseorang yang mengalami gangguan kepribadian memiliki cara pikir, cara pandang, serta perasaan yang berbeda dibandingkan dengan orang pada umumnya. Kondisi ini sering kali juga menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan dalam hubungan dengan orang lain.

Dalam hubungannya dengan media sosial, ketika seseorang terlalu membawa perasaannya terhadap postingan orang lain, seperti iri berlebihan, kecemburuan berlebihan, rasa marah berlebihan dan insekuritas berlebihan bisa mendorong seseorang menjadi anti sosial.

13. Social Media Anxiety Disorder (SMAD)

SMAD adalah sindrom yang berhubungan dengan kecemasan yang diperoleh saat penggunaan media sosial mempengaruhi kesejahteraan mental dan fisik seseorang.

Gangguan kejiwaan ini memiliki karakteristik yang kurang lebih sama dengan kecanduan. Para penderitanya merasa tidak bisa lepas dari media sosialnya. Sehingga mereka akan selalu mengecek media sosialnya kapan saja mereka beraktivitas dan di mana saja.

Gejala yang ditampilkan biasanya mirip dengan kecemasan pada  umumnya, seperti jantung berdebar, berkeringat, muncul rasa takut, cemas, tegang, dan tidak nyaman tapi dalam hal ini dikaitkan dengan penggunaan media sosial.

Penderita juga akan merasa terganggu apabila jumlah follower atau jumlah orang yang berkomentar dan menyukai postingannya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, sehingga lebih seperti terobsesi dengan media sosial.

14. Addiction

Kecanduan adalah ketidakmampuan psikologis dan fisik untuk berhenti mengonsumsi bahan kimia, obat-obatan, aktivitas, atau zat tertentu, meskipun hal tersebut dapat sangat merugikan penderitanya.

Kecanduan disebabkan karena disfungsi kronis pada sistem otak, membuat seseorang tidak dapat mengontrol bagaimana mereka menggunakan suatu zat atau mengambil bagian dalam suatu aktivitas, dan mereka menjadi bergantung padanya untuk menghadapi kehidupan sehari-hari.

Addiction terjadi secara bertahap. Awalnya, seseorang akan mencoba-coba suatu zat atau aktivitas karena rasa ingin tahu. Kemudian, penggunaannya akan meningkat dengan alasan yang dibuat-buat.

Kecanduan bisa menyebabkan kurangnya fokus, sulit tidur, dan menjadi malas serta tidak produktif. Akibat jangka panjangnya, orang yang menderita kecanduan akan kehilangan kemampuan bersosialisasi dalam kehidupan nyata.

15. Body Dysmorphic Disorder

Gangguan dismorfik tubuh atau body dysmorphic disorder adalah gangguan mental yang ditandai dengan gejala berupa rasa cemas berlebihan terhadap kelemahan atau kekurangan dari penampilan fisik diri sendiri.

Body dysmorphic disorder lebih banyak terjadi pada usia 15 hingga 30 tahun. Penderita kondisi ini sering merasa malu dan resah karena menganggap dirinya buruk, sehingga menghindari berbagai situasi sosial. Selain itu, penderita juga sering menjalani operasi plastik guna memperbaiki penampilannya.

Krisis kepercayaan diri dapat disebabkan oleh media sosial. Karena media sosial terbuka untuk umum, semakin banyak orang yang merasa perlu menampilkan dirinya yang paling baik secara fisik untuk dilihat oleh orang lain.

Hal ini sehubungan dengan bebasnya orang lain berkomentar pada postingan siapa saja, dan tidak hanya berupa komentar yang baik.

16. Narcissistic Personality Disorder

Narcissist adalah orang yang mengalami narcissistic personality disorder (NPD). Kondisi ini adalah sebuah gangguan mental. Orang yang mengalaminya akan menganggap dirinya lebih penting daripada orang lain.

Penderita gangguan jiwa ini memiliki kebutuhan yang tinggi untuk dipuji, dibanggakan, namun memiliki empati yang rendah terhadap orang lain. Akan tetapi, dibalik rasa percaya diri yang begitu tinggi, sebenarnya, narcissist memiliki kepribadian yang rapuh dan mudah runtuh hanya dengan sedikit kritikan

Pintar dan Bijak dalam Menggunakan Media Sosial

Memang hal yang berlebihan itu tidak lah baik, termasuk menggunakan media sosial. Jika kamu merasa sudah di level bahaya dalam menggunakan media sosial, cobalah untuk secara perlahan mengurangi kebiasaan buruk tersebut. Bagi yang belum merasakan gejala apapun, tetap waspada dan mengatur porsi menggunakan media sosial dengan baik dan dalam porsi yang aman.

Sumber : www.cermati.com/artikel/amp/hati-hati-kecanduan-media-sosial-ternyata-bisa-sebabkan-16-penyakit-mental

πŸ„±πŸ„΄πŸ„½πŸ…ƒπŸ„΄πŸ„½πŸ„Ά πŸ…‚πŸ„ΈπŸ„±πŸ„΄πŸ… πŸ…‚πŸ…„πŸ„»πŸ„°πŸ…†πŸ„΄πŸ…‚πŸ„Έ πŸ…„πŸ…ƒπŸ„°πŸ…πŸ„°


#ManguniCyberTroops 

#MCT 

#BentengSiberSulut

#PAR 

#JagaRuangSiber



0 Komentar